This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 30 September 2015

Misteri Ratusan Mangkuk Batu Berumur 2.500 Tahun di Laos







Phonsavan - Kota Phonsavan di Laos memiliki peninggalan zaman megalitik berupa ratusan mangkuk batu yang tersebar di padang rumput. Mangkuk batu tersebut diliputi misteri dan berumur sekitar 2.500 tahun.

Phonsavan merupakan sebuah kota kecil di Laos yang berjarak sekitar 400 km dari ibukota yakni Vientiane. Dilansir detikTravel dari BBC, Rabu (30/9/2015) kota yang dikelilingi oleh pegunungan tersebut menyimpan mangkuk batu misterius yang berumur 2.500 tahun.

Disebut sebagai 'Plain of Jars,' ratusan mangkuk batu di Phonsavan memang menarik wisatawan untuk datang. Sekilas bentuknya terlihat seperti tempat penumbukan padi di Jawa, hanya saja terbuat dari batu dan berukuran lebih besar.

Mangkuk batu tersebut pun berukuran besar dan bervariasi. Mangkuk batu yang tertinggi sekitar tiga meter dengan lebar satu meter. Di sekitar mangkuk tersebut juga sempat ditemukan tulang manusia dan peninggalan batu lainnya.




Namun dibalik asumsi tersebut, masih belum ada penjelasan resmi tentang asal muasal dan fungsi mangkuk batu tersebut. Sejumlah arkeologis mengatakan kalau mangkuk batu tersebut merupakan lokasi penguburan masyarakat kuno yang bepergian dari Sungai Mekong dan Teluk Tonkin.

Ada asumsi lain yang menyebutkan kalau mangkuk batu tersebut digunakan sebagai salah satu bagian ritual penting dalam prosesi pemakaman. Diperkirakan kalau jenazah manusia akan ditaruh di dalam mangkuk tersebut sampai membusuk, sebelum akhirnya dipindahkan untuk dikremasi. 

Setelah dikremasi, konon abu jenazahnya kembali di taruh di mangkuk tersebut. Hal itu pun akan terus dilakukan hingga mangkuknya penuh dengan abu jenazah. Bisa dibilang seperti lumbung penyimpanan abu jenazah.

Namun menurut masyarakat sekitar, mangkuk batu tersebut dahulu digunakan sebagai tempat pengolahan beras menjadi minuman beralkohol seperti sake. Air beralkohol tersebut akan dipersembahkan untuk raksasa yang tinggal di pegunungan Phonsavan. Tapi semua itu baru spekulasi saja. 




Tapi traveler yang ingin melihat mangkuk batu tersebut tidak bisa sembarangan. Dari 60 situs yang tersebar di Phonsavan, hanya ada tujuh situs yang boleh dikunjungi turis. Adapun situs pertama menyimpan 300 mangkuk batu dan sebuah gua kapur.

Fakta unik lainnya, Phonsavan berada di jalur pesawat yang dahulu dilalui oleh pesawat pengebom AS. Lokasi itu juga menjadi tempat pembuangan ratusan bom saat Perang Vietnam dulu. Jika salah melangkah, bukan tidak mungkin menginjak bom yang masih aktif. Hii! 

Kalau Daging Sapi Berubah Warna Apakah Masih Aman Dikonsumsi?



Setelah disimpan beberapa lama di kulkas kadang daging sapi berubah warna menjadi kusam kecokelatan atau mirip daging matang. Apakah masih aman dikonsumsi?​

Ketika ingin memasak daging, bisa saja Anda mendapati daging sapi berubah warna setelah disimpan ​beberapa hari di kulkas​. Mengapa daging sapi bisa berubah warna. Apakah masih aman dimakan?



Daging merah, sebagian besar ​di​anggap ​sebagai ​daging yang masih segar. Warna merah segar ini merupakan hasil dari protein dalam daging, yang disebut mioglobin. Protein ini ​berubah menjadi oxymyoglobin yang menghasilkan warna merah.


Namun,tidak semua daging memiliki warna merah yang sama. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bebe​rapa faktor. Seperti ​jenis kelamin, spesies, dan usia ​sapi. Hal ini bisa​ menghasilkan daging berwarna lebih gelap.

Daging yang terlalu lama diluar dan terkontaminasi dengan udara dan cahaya juga dapat membuat merah daging menjadi pudar. Anda mungkin pernah melihat ketika daging hamburger sebelum dimasak berwarna abu-abu,tapi di bagian ​dalamnya masih berwarna merah atau merah muda.



Selain itu, p​erubahan warna juga dapat terjadi pada daging mentah beku. Daging ini dapat memudar atau berwarna cokelat gelap. Sementara daging unggas kadang-kadang memiliki warna sedikit kebiruan atau kuning cerah pada kulitnya.


Tapi ​terasa ​aneh jika melihat daging unggas berwarna merah muda dan kulitnya berwarna putih. Hal ini disebabkan variasi yang dihasilkan dari perbedaan cara pengembangbiakan ​ dan usia unggas. Unggas juga dapat berubah warna ketika membeku.

Daging yang berubah​ warna karenadisimpan dalam lemari es atau freezer masih aman untuk dikonsumsi. Tetapi, hanya dalam jangka waktu dua hari untuk daging giling, dan lima hari untuk daging potong. Untuk daging yang diletakkan diluar lemari es, Anda bisa mengodengan cermat sebelum dikonsumsi.

(odi/tan)

Kamis, 24 September 2015

Kerajaan Kalingga



Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 M. Letak pusat kerajaan ini belum jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 M dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Pengaruh Kerajaan Kalingga sampai daerah selatan Jawa Tengah, terbukti diketemukannya prasasti Upit/Yupit yang diperkirakan pada abad 6-7 M. Disebutkan dalam prasasti tersebut pada wilayah Upit merupakan daerah perdikan yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Daerah perdikan Upit sekarang menjadi Ngupit. Kampung Ngupit adalah kampung yang berada di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti Upit/Yupit sekarang disimpan di kantor purbakala Jateng di Prambanan.

Pemerintahan dan Kehidupan Masyarakat

Dalam berita Cina disebut adanya raja atau Ratu Shima, yang memerintah pada tahun 674 M. Beliau terkenal sebagai raja yang tegas, jujur dan bijaksana. Hukum dilaksanakan dengan tegas, hal ini terbukti pada saat raja Tache ingin menguji kejujuran rakyat Kalingga. Diletakkanlah suatu pundi-pundi yang berisi uang dinar di suatu jalan. Sampai tiga tahun lamanya tidak ada yang berani mengambil.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanah yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi Raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M). Setelah Maharani Shima meninggal ditahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi Raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada Putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara Puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Penangkaran.

Keterangan tentang Kerajaan Kalingga (Ho-ling) didapat dari prasasti dan catatan dari Negeri Cina. Pada Tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah teklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Budha.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti peninggalan Kerajaan Ho-ling adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbagu di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bungan teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

Gambar: Prasasti Tukmas

Sementara di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ditemukan Prasasti Sojomerto. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 M. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, Ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan Istrinya bernama Sampula. 
Gambar: Prasasti Sojomerto

Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.

Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang Kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

Peninggalan yg lainya adalah Candi Angin dan Candi Bubrah. Kedua Candi tersebut ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 






Rabu, 23 September 2015

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu yang berdiri setelah kerajaan Kutai, yakni pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Kerajaan yang berkuasa di wilayah Pulau Jawa bagian barat ini berasal dari kata Tarum dan Nagara. Tarum berarti sungai yang membelah Jawa Barat yang sekarang menjadi Sungai Citarum dan Nagara berarti Kerajaan atau Negara.

Berdirinya kerajaan Tarumanagara masih menajdi perdebatan para ahli. Namun, menurut naskah Wangsasekerta, pada abad ke-4 M terdapat sejumlah pengungsi dari India yang melarikan diri ke pulau dan beberapa wilayah Nusantara untuk mencari perlindungan. Mereka mengungsi ke Wilayah Nusantara karena terdapat perang besar di India, yakni kerajaan Palawa dan Calangkayana yang melawan Kerajaan Samudragupta.

Sebagian besar para pengungsi berasal dari kerajaan Palawa dan Calankayana, pihak yang kalah dalam peperangan tersebut. Salah satu rombongan pengungsi Calangkayana dipimpin oleh Jayasingawarman yang tidak lain adalah Maharesi. Kemudian Jayasingwarman membuka pemukiman baru di dekat Sungai Citarum yang diberi nama Tarumadesya atau Desa Taruma. Menginjak sepuluh tahun, banyak penduduk berdatangan ke Desa Taruma sehingga berkembang menjadi desa yang besar yang pada akhirnya menjadi kota (Nagara). Semakin pesatnya berkembangan kota Taruma, Jayasingawarman membentuk menjadi Kerajaan yang bernama Tarumanagara pada tahun 358.

Kejayaan Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanegar yang mengalami masa pemerintahan kerajaan sebanyak 12 kali telah mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Purnawarman (395-434 M). Purnawarman merupakan Raja ketiga yang berkuasa setelah Dharmayawarman (382-395 M). Pada masa Raja Purnawarman, Kerajaan Tarumanagara memperluas wilayahnya dengan menakhlukkan bgeberapa kerajaan disekitarnya. Kejayaan Raja Purnawarman juga tertulis pada Prasasti Ciaruteun yang berisi, "Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, Raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia".


Gambar Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea 
Ditemukan ditepi Sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar Sungaoi Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanagara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Prasasti-prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanagara
Beberapa prasasti yang di temukan yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara, diantaranya:
  1. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
  2. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian sungai pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
  4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
  5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarng masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya di daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda Kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Naskah Wangsakerta

Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wansakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.

Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanagara didirikan oleh Rajadirajaguru jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantukan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarkan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.

Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395 - 434 M). Ia membangun Ibukota Kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke Pantai. Dinamainya kota itu Sundapura pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.

Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 - 536 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Cadrawarma (515 - 535 M), ayah Suryawarman, banyak pengausa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaan terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalina pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?

Baik sumber-sumber prasati maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaanya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke purwalingga (sekarang Purbolonggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukan Rajatapura atau Salakanagara (Kota Perak), yang disebut Agyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampia tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).

Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di Ibukota Tarumanagara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang saja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pnediri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.

Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi Wilayah Tarumanagara.

Runtuhnya Kerajaan Tarumanagara

Runtuhnya Kerajaan Tarumanagara akibat adanya pengalihan kekuasaan, yakni dari Raja ke-12 Linggawarman kepada menantunya, Tarusbawa. pada pemerintahan Tarusbawa, pusat Kerajaan Tarumanagara dialihkan ke kerajaannya sendiri, yakni Kerajaan Sunda (bawahan Tarumanagara) yang pada akhirnya Kerajaan Tarumanagara digantu dengan nama Kerajaan Sunda. 

Raja-raja Kerajaan Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta

  1. Jayasingwarman : 358-382
  2. Dharmayawarman : 382-395
  3. Purnawarman : 395-434
  4. Wisnuwarman : 434-455
  5. Indrawarman : 455 -515
  6. Candrawarman : 515-535
  7. Suryawarman : 535-561
  8. Kertawarman : 561-628
  9. Sudhawarman : 628-639
  10. Hariwangsawarman : 639-640
  11. Nagajayawarman : 640-666
  12. Linggawarman : 666-669

Kerajaan Kutai

Kerajana Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan muncul pada abad 5M atau kurang lebih 400M. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), tepatnya di Hulu Sungai Mahakam. Namun Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat sedikit informasi yang didapat akibat kurangnya sumber sejarah.

Keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti berbentuk Yupa. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahman atas kedermawanan raja Muawarman. Dalam Agama Hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat Islam. Dari salah satu Yupa tersebut diketahui bahwa Raja yang memerintah Kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawananya menedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Dapat diketahui bahwa menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto yang diterbitkan oleh Balai Pustaka halaman 36, transliterasi prasasti datas adalah sebagai berikut :

śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.

Yang artinya :
Sang maharaja Kudungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Angsuman (dewi Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.

Gampar Prasasti Yupa

Kehidupan Politik seperti yang dijelaskan dalam Yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengna kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara-tempat suci untuk memuja Dewa Siwa di Pulau Jawa disebut Baprakewara.

Raja Kudungga
Raja kudungga adalah raja pertama yang berkuasa di Kerajaan Kutai. Tetapi, apabila dilihat dari nama raja yang masih menggunakan nama Indonesia, para ahli berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Raja Kudungga pengaruh Hindu baru masuk ke wilayahnya. Kedudukan Raja Kudungga pada awalnya adalah kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia mengubah struktur pemerintahannya menjadi Kerajaan dan mengankat dirinya menjadi raja sehingga pergantian raja dilakukan secara turun-temurun.

Aswawarman
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. 
Aswawarman memiliki 3 orang putra, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra  Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi  hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, sehingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

Mulawarman
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kudungga. Namun Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengna pengaruh bahasa Sansekerta bila dilihat dari cara penulisannya. Sementara itu Kudungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kudungga sendiri diduga belum menganut Agama Hindu. Mulawarman adalah raja terbesar dari Kerajaan Kutai. Di bawah pemerintahannya Kerajaan Kutai mengalami masa yang gemilang. Rakyat hidup tenteram dan sejahtera.
Hanya ketiga raja tersebut yang tertulis dalam prasasti Yupa. Sementara itu raja-raja lain setelah Mulawarman belum diketahui secara pasti karena keterbatasan sumber sejarah.

Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan dari prasasti-prasasti yang ditemukan oleh para ahli. 
Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:
  • Masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan teratur.
  • Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memilahara dan melestarikan budayanya sendiri
Kehidupan ekonomi di Kutai tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana. Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh. Apabila emas dan sapi tersebut didatangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa Kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang. Jika dilihat dari letak geografis, Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menajdi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.

Sementara itu kehidupan budaya dapat dikatakan Kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk Agama Hindu) yang disebut Vratyastoma. Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga masih mempertahankan Aswawarman karena Kudungga masih mempertahankan ciri-ciri keldonesiaannya, sedangkan yang memimpin upacara tersebut, menurut para ahli, dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh Kaum Brahmana dari orang Indonesia asli. Adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa Sansekerta yang pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13 Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakartagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 Kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi gelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

Berikut adalah nama-nama Raja Kutai :
  1. Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
  2. Maharaja Aswawarman (anak Kudungga)
  3. Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gejayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala parana Tungga Warman
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa Warman
  15. Maharaja Guna Parana Dewa Warman
  16. Maharaja Guna Parana Dewa Warman
  17. Maharaja Wijaya Warman
  18. Maharaja Sri Aji Dewa Warman
  19. Maharaja Mulia Putera Warman
  20. Maharaja Nala Pandita Warman
  21. Haharaja Indra Paruta Dewa Warman
  22. Maharaja Dharma Setia Warman

Semoga bermanfaat




Kerajaan di Indonesia

Kerajaan-kerajaan yang pertama berkembang di Indonesia yaitu kerajaan Hindu dan Budha. Sedangkan sistem perekonomian yang digunakan pada waktu itu adalah perdagangan, sehingga hubungan dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, China dan wilayah Timur Tengah pun bisa terjalin.

Pada zaman kerajaan berkembang Agama Hindu lah yang pertama masuk ke Indonesia dengan diperkirakan pada awal Tarikh masehi dan terus berkembang sampai kerajaan-kerajaan Islam bermunculan.

Berikut daftar kerajaan di Indonesia.

  • Kerajaan Kutai
  • Kerajaan Tarumanagara
  • Kerajaan Kaling
  • Kerajaan Sriwijaya
  • Kerajaan Melayu
  • Kerajaan Mataram Hindu
  • Kerajaan Wangsa Isyana
  • Kerajaan Kediri
  • Kerajaan Bali
  • Kerajaan Singasari
  • Kerajaan Majapahit
  • Kerajaan Samudra Pasai
  • Kerajaan Demak
  • Kerajaan Pajang
  • Kerajaan Matarm Islam
  • Kerajaan Banten
  • Kerajaan Malaka
  • Kerajaan Aceh
  • Kerajaan Ternate
  • Kerajaan Tidore
  • Kerajaan Makasar
  • Kerajaan Banjar




Sejarah Revolusi Indonesia

Ketika kita gunjang ganjing tentang reformasi bangsa Indonesia dan juga dalam rangka kita memperingati hari kebangkitan nasional, barangkali tidak terbayangkan bagaimana Indonesia itu terjadi melalui Revolusi Indonesia. Revolusi Indonesia tidak terlepas dari pergolakan yang terjadi didunia internasional. Pergolakan politik dunia dibelahan dunia Barat menjadi biang keladinya adalah Negara Jerman yang melakukan invasi oleh pemerintahan Nazi Hitler dengan serangan Blits Kriegnya mula-mula melanda negeri Belanda pada tanggal 10 Mei 1940, sehingga pemerintah Belanda melarikan diri ke London untuk bergabung dengan sekutu dan menjadi pemerintah pelarian, sampai dengan tahun 1941 Pearl Harbour, Teluk Mutiara diserang Jepang hingga pecah perang Pasific, pemerintah pelarian Belanda pun turut menyatakan perang terhadap Jepang. Invasi Jepang di Asia Timur dan Tenggara sungguh menggetarkan tak dapat diduga bahkan mampu menundukkan kekuasaan Barat. Setelah Singapura jatuh ditangan militer Jepang, maka kedudukan pemerintahan Hindia Belanda tak dapat dipertahankan lagi. Serbuan tentara Jepang di Indonesia pada permulaan bulan Maret tahun 1942, dimana pada waktu itu berhadapan dengan armada laut Belanda di lautan jawa, ternyata Belanda tidak mampu mempertahankan pemerintahan Hindia Belanda dan ia dipaksa menyerah pada tanggal 8 Maret 1942. Syarat-syarat penyerahan itu diumumkan oleh Komando Angkatan Darat Jepang di lapangan terbang Kalijati dekat Bandung, pada waktu itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir yang bernama Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer yang ditawan Jepang sekaligus pertanda berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Indonesia ibarat lepas dari mulut buaya masuk kecengkraman harimau, karena rakyat Indonesia setelah ini dibawah pemerintahan Nippon Jepang. Rakyat Indonesia berada pada persimpangan jalan yaitu dihadapkan pada dua tujuan perang yaitu propaganda sekutu disatu pihak dan dipihak lain propaganda perang oleh kekuatan-kekuatan Axis ( Jerman-Italia-Jepang), Rakyat Indonesia berada dibawah negeri penjajah baru dibawah genggaman kekuasaan militer Jepang. Padahal sebelum invasi militer Jepang rakyat Indonesia mendekati masa perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Banyak pemimpin pergerakan Indonesia mengalami masa pembuangan atau dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda untuk melumpuhkan aktivis politik bangsa Indonesia yang menghendaki kemerdekaannya. Selama 10 tahun terakhir dari jatuhnya kekuasaan Belanda dengan pemerintahan Hindia Belandanya yaitu tahun 1932–1942, pemimpin-pemimpin gerakan nasional Indonesia berusaha untuk membujuk pemerintah Belanda memberikan latihan-latihan militer kepada orang-orang Indonesia untuk memberikan kemampuan membela tanah air dalam keadaa perang. Saat itu suhu politik dunia semakin menegang terutama didaerah Pasifik, keadaan keuangan ekonomi Belanda mengalami depresi ditandai dengan jatuhnya wall Street tahun 1929, untuk memperbaiki depresi tersebut maka pemerintah Belanda berusaha menstabilkan situasi social dan politik di negeri jajahannya dengan menunjuk dua gubernur jenderal secara berturut-turut, melakukan penindasan dan menjaga arus ekonomi dari Belanda ke Indonesia tetap lancar dan menjamin pengangkutan melalui pengapalan bahan mentah terutama rempah-rempah berjalan terus dengan lancar. Tanpa stabilitas social, politik di Hindia Belanda maka keadaan ekonomi akan lebih memburuk dan hal ini akan mempengaruhi negeri Belanda itu sendiri yang memerlukan bahan-bahan mentah bagi kegiatan industerinya yang semakin meluas. Kedua Gubernur Jenderal tersebut adalah Mr.B.C. de jonge (1931-1936) dan Mr.A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942). Mereka berdua ini melaksanakan tugas tidak mudah, menghadapi persoalan-persoalan dalam negeri yang berdimensi luas, dengan meningkatnya situasi suhu politik didaerah Pasific. Menghadapi desakan dari Jepang yang memerlukan minyak dalam jumlah yang lebih besar. Jepang menampakkan gejala yang mencurigakan bagi pemerintah Belanda yang sedang bersiap-siap untuk perang atau melakukan ekspansi keselatan. Kecurigaan terhadap politik Jepang semakin nampak dengan menyusun strategi mendobrak tembok pengepungan politik dan militer kekuatan Amerika,Inggris, Tiongkok dan Belanda yang disebut dengan kekuatan A-B-C-D. Bagaimanapun pemerintah Belanda masa itu merasa cukup aman menghadapi keadaan politik internasional didaerah Pasific dengan adanya front persatuan kekuatan-kekuatan A-B-C-D. Semenjak tahun 1930 an gerakan kebangsaan untuk kemerdekaan terhenti, karena tindakan-tindakan pemerintah colonial berupa penindasan, rapat-rapat umum dilarang, kemerdekaan pers dibatasi. Aparatur keamanan diberi kewenangan untuk menutup rapat-rapat partai, dan melakukan penangkapan terhadap pembicara yang pidatonya bersifat menghasut atau profokatif. Pemerintah Hindia Belanda memberikan hak kepada petugas keamanan yang disebut dengan “hak-hak luar biasa”(exorbitante Rechten). Setiap orang yang dipandang oleh pemerintah membahayakan ketertiban umum, setiap saat dapat ditangkap dan dikirim ke kamp-kamp tawanan di “Boven Digul, Irian Jaya atau ketempat salah satu pembuangan lainnya. Mohamad Hatta dan Sjahrir pemuda-pemuda Indonesia dibuang ke Boven Digul, Sukarno ke pulau Flores, Iwa Kusuma Sumantri dan Dr. Tjipto Mangunkusumo ke Banda Neira,Maluku. Walaupun partai buruh Belanda mengajukan sebuah resolusi disebut resolusi Kramer untuk membatalkan tindakan-tindakan tersebut karena melanggar hak asasi manusia, namun resolusi tersebut ditolak. Melihat tindakan pelanggaran hak asasi tersebut maka kegiatan-kegiatan politik gerakan kebangsaan semula dari bentuk rapat-rapat umum kebentuk “Volskraad” atau Dewan Rakyat, dimana wakil-wakil dari partai-partai politik moderat membentuk suatu kelompok parlementer yang dinamakan “Fraksi Nasional”. Melalui Fraksi Nasional ini memberikan angin kepada unsure-unsur radikal yang melakukan gerakan kebangsaan. Secara diam-diam terjalin kerjasama insidentil saling pengertian antara anggota-anggota Fraksi Nasional dan pendukung gerakan kemerdekaan membebaskan tawanan-tawanan di”Boven Digul”, di Flores dan Banda Neira, dimana mereka tersiksa menjadi penonton panggung politik selama tahun-tahun gelap yang penuh penderitaan dari kolonialisme Belanda. Pemimpin Front Nasional Husni Thamrin yang menjadi terkenal dikalangan cendekiawan, mengemukakan gagasan perjuangan kaum muda kearah kemerdekaan Indonesia terus dikejar-kejar oleh aparat keamanan pemerintah colonial. Gerakan latin untuk mencapai kemerdekaan, beberapa pemimpin sayap radikal Dr.A.K.Gani, Amir Sjarifudin, Muhammad Yamin, dll dengan mendirikan partai-partai yang kooperatif, yang selaras dengan gerakan nasional saat itu dengan tujuan mencapai kemerdekaan penuh. Mereka melakukan siasat merubah gerakan yang radikal menjadi gerakan lebih lunak berhasil membawa partai-partai politik, organisasi pemuda dan social melancarkan aksi persatuan untuk demokrasi parlementer. Lalu mereka membentuk organisasi baru yaitu “Gabungan Politik Indonesia”(GAPI), yang kemudian membuat suatu program aksi dengan slogan “Indonesia berparlemen”. Indonesia memiliki suatu Dewan Perwakilan Rakyat yang keanggotaannya dipilh menurut sistim perwakilan berimbang dan pemerintah bertanggung jawab atas kebijaksanaan yang ditempuh kepada Dewan Perwakilan Rakyat itu. Meskipun dengan setengah hati pemerintah Belanda pada waktu itu terpaksa harus mengakui aktifitas tersebut sebagai suatu gerakan yang syah, selama masih dalam koridor Undang-Undang dan peraturan yang berlaku. Hal ini mengingat situasi internasional pada waktu itu menegang dan pemerintahan yang sedang mengalami depresi ekonomi, maka pemerintah Belanda membiarkan dan memperkenankan gerakan tersebut berdiri dan berkembang, dengan maksud mengurangi ketegangan social dan politik. Pemerintah Belanda mencoba untuk menina bobokkan perjuangan rakyat Indonesia sambil mengambil sikap menunggu dan memberikan kesan seolah-olah bersikap toleran. Untuk mengatasi gerakan perjuangan kemerdekaan yang dilakukan GAPI tersebut maka pemerintah Belanda membatasi diri dengan cara-cara diplomatic, mendirikan panitia resmi dibawah pimpinan Dr.Visman pada tanggal 14 September 1940 disebut panitia Visman. Panitia “Visman” melaksanakan tugas menyelidiki keinginan dan pendapat, serta aspirasi politik rakyat Indonesia diantara berbagai suku bangsa dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda itu. Dalam kenyataanya ternyata para pemimpin partai-partai politik yang tergabung dalam GAPI menggunakan kesempatan dengan mengajukan sebanyak mungkin keinginan, pendapat dan harapan-harapan mereka. Perhatian pemerintah Belanda terpecah karena adanya bahaya pecahnya perang Pasific sehingga panitia Visman berakhir tanpa hasil, semakin tumbuhlah rasa ketidak puasan dikalangan cendekiawan Indonesia dan dikalangan unsure-unsur moderat dari gerakan nasional. Bermula dengan petisi Sutardjo dalam bentuk resolusi yang didukung oleh mayoritas anggota “Dewan Rakyat”yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Resolusi yang memberi kuasa kepada Sutardjo Kartohadikusumo untuk mengajukan petisi kepada pemerintah di negeri Belanda untuk mengundang suatu konferensi persemakmuran yang terdiri dari daerah-daerah jajahan Belanda dan negeri Belanda untuk membicarakan perubahan konstitusional guna memperkuat fikiran “Rijkseenheid”(kesatuan kerajaan). Petisi tersebut ditolak ratu Yuliana pada tanggal 16 Nopember 1938. Sutardjo Kartohadikusumo, dikenal sebagai seorang pegawai negeri yang setia , adalah Wakil Bupati Gresik,Jawa Timur, dan salah seorang anggota Dewan Rakyat yang berfikiran progresif berpengaruh kuat dikalangan bupati-bupati feodal aristokratis Jawa yang sepanjang masa colonial Belanda merupakan kepercayaan penguasa Belanda. Penolakan petisi itu merupakan titik awal ketidak percayaan politik dikalangan luas orang-orang Indonesia yang loyal yang sebelumnya memiliki kepercayaan mutlak terhadap maksud-maksud baik pemerintah Belanda. Membangkitkan kesadaran para pejuang kemerdekaan menganggap bahwa kemerdekaan penuh hanya didapat berdasarkan kemampuan diri sendiri dan hanya dengan bersandarkan pada kekuatan sendirilah dapat tercapainya kebebasan nasional itu. Pada situasi yang genting menjelang pecahnya perang Pasific itu, melalui propaganda terbuka dari siaran-siaran radio Tokyo, Jepang mengumumkan pembebasan Asia dari dominasi Barat, dengan slogan bahwa “Asia untuk bangsa Asia”, setiap akhir siaran dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya”, cipataan Wage Rudolf Supratman. Hal ini dimaksudkan untuk mengambil hati pejuang kemerdekaan Indonesia untuk berjuang bersama-sama Jepang dengan melawan orang-orang Eropa,Amerika. Para pejuang kemerdekaan menyadari bahwa perlawanan untuk meraih kemerdekaan hanya dapat dicapai atas kekuatan sendiri bukan berdasarkan pemberian kekuasaan dari bangsa lain. Perananan yang dimainkan Sukarno dan Hatta selama masa pendudukan Jepang dengan semangat ideology percaya kepada diri sendiri bersama eksponen-eksponennya adalah factor yang menentukan mencapai kemerdekaan. Gerakan kemerdekaan memperoleh dukungan moril dan politik atas dasar kekuatan diri sendiri selanjutnya terbentuk “perhimpunan Indonesia” suatu perhimpunan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Eropa. Perhimpunan Indonesia di Eropa memperoleh pengalaman yang bermanfaat karena orientasi internasionalnya selama dua kali peperangan dunia, perang dunia yang pertama 1914-1918 dan perang dunia kedua tahun 1939-1942. Dalam percaturan politik dunia saat itu banyaknya slogan-slogan yang muluk-muluk, ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dari slogan yang diucapkan itu. Liga bangsa-bangsa, volkenbond, ciptaan Wilson Presiden Amerika Serikat yang memberikan harapan kepada umat manusia bagi penegakan perdamaian abadi. Liga bangsa-bangsa yang dijadikan bagian integral dari perjanjian perdamaian Versailles tahun 1919. Harapan yang dikemukakan Wilson memberikan kenyataan dan merangsang gerakan-gerakan nasional di Asia dan Afrika, yang kemudian rakyat di Asia,Afrika memberikan dukungan lahir dan bathin kepada tentara sekutu pada perang dunia pertama itu. Banyak perajurit-prajurit Asia dan Afrika yang bertempur bahu membahu dengan kawan-kawan seperjuangan dari Eropa dan Amerika di medan pertempuran Eropa. Merupakan harapan bagi rakyat yang terjajah di Asia dan Afrika bahwa hak menentukan nasib sendiri akan membawa mereka lebih dekat kepada tujuan ahir mereka yaitu pembebasan negeri yang sedang terjajah. Berkat kenyataan akan penentuan hak menentukan nasib sendiri ini, setelah perang dunia pertama pulihnya kembali perdamaian, muncul Negara-negara baru di Eropa Tengah dan Timur seperti Polandia, Cekoslovakia, Estland, Letland, Lithauen, dan Yugoslavia. Negara-negara tersebut lahir berkat dorongan semangat menentukan hidup sendiri, sesungguhnya berasal dari golongan dan suku bangsa minoritas dari Negara-negara imperium Jerman,Rusia dan Austro=Hungarian. Peperangan tersebut memberikan peluang bagi kebangkitan melawan penguasa-penguasa mereka dan memihak kepada tujuan sekutu. Akan tetapi hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Eropa Tengah dan Timur,sebagai realisasi tujuan perang sekutu, tidak menyangkut pada rakyat terjajah di Asia,Afrika yang merupakan urat nadi bagi Negara-negara industri di Eropa, Amerika dan Jepang. Prinsip-prinsip menentukan hak nasib sendiri tercantum dalam piagam Atlantik ditanda tangani oleh Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Sir Winston Churchil pada tanggal 14 Agustus 1941, piagam ini seakan-akan merupakan perumusan kembali prinsip-prinsip Presiden Wilson tentang persamaan dan hak menentukan nasib sendiri. Bagi Negara-negara sekutu bermanfaat untuk mengamankan dunia bagi demokrasi yang sedang berperang melawan kediktatoran yang dilakukan oleh Nazi Jerman,Negara fasis Italia, dan militeris Jepang. Para pemimpin gerakan kemerdekaan telah mempunyai pendirian tertentu tentang perang Asia Pasific, dengan berlandaskan pengalaman selama perang dunia pertama mengajarkan mereka hususnya rakyat Indonesia dengan memihak kepada siapapun tak akan membawa hasil yang nyata bagi kebebasannya, namun harus bersandarkan kepada kekuatan sendiri, atas dasar persatuan nasional. Indonesia secara resmi adalah wilayah taklukan pemerintah Belanda yang mengasingkan diri saat Jepang menyerang Pearl Harbour tanggal 6 Agustus 1942 dan menyatakan perang dengan Jepang. Namun secara politis, para pemimpin gerakan kemerdekaan meletakkan sikap dasar bagi kepentingan nasional. Setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri, maka peperangan di Pasific itu adalah perang antara axis power (kekuatan poros) dan sekutu bagi Indonesia perang tersebut adalah antara negeri Belanda dan Jepang. Rakyat Indonesia tidak berkepentingan dalam peperangan tersebut, tetapi yang penting adlah kemerdekaan yang harus dicapai. Akibat perang tersebut menimbulkan perubahan-perubahan politik dunia, perhimpunan Indonesia mendapat ilham , berbagai kegiatan telah dilakukan pada puncaknya diterimanya asas-asas perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang disetujui secara bulat oleh sidang lengkap perhimpunan Indonesia yang diketuai oleh Dr.Sukirman pada tahun 1925. Asas-asas perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia yang disepakati itu adalah : berdiri pada kaki sendiri (self-reliance) menolong diri sendiri (self help) penentuan nasib sendiri (self-determination) non-kooperasi (non-cooperation) Azas-azas ini merupakan sendi-sendi dari pernyataan prinsip-prinsip pokok sebagai pedoman bagi mereka atau organisasi-organisasi yang mengabdikan diri bagi tujuan kebebasan nasional. Perhimpunan Indonesia selanjutnya menjadi terkenal mendapat banyak dukungan kaum intelektual di Eropa, dengan mendapat dukungan moril dari gerakan buruh internasional, partai-partai pekerja, maupun serikat-serikat buruh dan akhirnya menjadi terkenal dikalangan organisasi mahasiswa Asia dan Afrika yang tersebar diibukota-ibukota di benua Eropa seperti Paris, Berlin, London, Wina dimana pada waktu itu mahasiswa-mahasiswa Indonesia dalam keadaan pelik , diwaktu berlibur mengadakan pertemuan dan menjalin hubungan erat dengan mereka. Pada akhir tahun 1926, dan awal tahun 1927 terjadi pemberontakan oleh kaum komunis di Indonesia, masing-masing di Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Di Tiongkok terjadi huru hara berdarah yang dimulai dari tuan-tuan tanah feudal bersenjata (Feodal warlords), dibantu oleh orang-orang Inggris yang berkepentingan melindungi modalnya di Sanghai dan daerah-daerah lain di Tiongkok. Di India tindakan-tindakan kekerasan digunakan untuk membendung gerakan nasional di India. Di Timur Tengah dan Afrika tindakan-tindakan kekerasan serupa telah dilancarkan pula, seperti pemboman kota Damsjik di Siria oleh penjajah Perancis, pengejaran dan penangkapan pemimpin-pemimpin nasional didalam daerah jajahan Inggris dan Perancis dibenua Afrika.. Hal ini menimbulkan rasa gusar bagi rakyat didunia yang sadar secara moril, kolonialisme menjadi pusat perhatian dunia sehubungan dengan peristiwa-peristiwa berdarah, pergelutan dengan kekerasan atau pemberontakan-pemberontakan setempat diberbagai daerah jajahan di Asia,Afrika. Sehingga dirasakan perlu untuk melakukan protes terhadap setiap terror dan ancaman kekerasan, dan penindasan terhadap rakyat didaerah jajahan. Rangkaian peristiwa kekerasan dan munculnya prinsip-prinsip kebebasan nasional menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dunia yang tertindas untuk melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah. Di Indonesia semangat nasionalisme tanggal 28 oktober 1928, dengan sumpah pemuda yang mengikrarkan bertumpah darah satu, Indonesia ,berbangsa satu ialah Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini merupakan titik awal pemuda-pemudi Indonesia untuk mewujudkan kebebasan rakyat Indonesia dari belenggu penjajajahan. Tetapi pada masa itu perjuangan masih sangat panjang mengingat pemerintah Hindia Belanda masih kokoh menduduki Indonesia. Usaha untuk menghimpun kekuatan melawan penjajah dan anti imperialis baik perorangan maupun pergerakan organisasi-organisasi , telah dilakukan oleh beberapa organisasi buruh di Jerman. Dalam suatu pertemuan di Brussel th.1927 untuk membahas cara-cara melawan politik agresi dan penindasan oleh kekuatan-kekuatan imperialis. Hadir utusan dari 21 negara dari 5 benua; Asia, Afrika, Eropa dan Amerika (Utara dan Selatan), terdiri dari wakil-wakil berbagai organisasi dan tokoh-tokoh perorangan yang terkenal didunia. Kongres berlangsung dari tanggal 10 s/d 15 februari 1927. pada sidang pembukaannya banyak pemimpin-pemimpin terkenal yang mengucapkan pidato yang pada dasarnya mencerminkan semangat persaudaraan dan setia kawan bagi tujuan bersama. Hasil pertemuan itu memberikan kesan yang mendalam bagi segenap pesertanya, karena isi pertemuan itu mengandung semangat setia kawan dan itikad baik, melenyapkan semua rintangan bahasa, kepercayaan, agama dan warna kulit. Diantara wakil-wakil gerakan kebangsaan antara lain ; Jawahar Lal Nehru, atas nama kongres nasional India, Hafiz Ramadan Bey Ketua dari Partai Nasional Mesir dan anggota parlemen, Mazhur Bey Al Sakri dari Suriah mewakili gerakan pembebasan Suriah; Hadi Ahmad Massali, mewakili perhimpunan orang islam di Tunisia, Aljazair dan Marokko yang bernama Bintang Afrika Utara; Chadli Bin Mustafa mewakili partai Destour atau partai nasional Tunisia, Lamine Senghar Ketua panitia pembelaan kepentingan orang-orang negro; Muhammad Hatta Ketua perhimpunan Indonesia; perkumpulan orang-orang Indonesia di Eropa. Delegasi Indonesia terdiri dari lima orang anggota yaitu Muhammad Hatta Ketua, Semaun, Gatot Tarumamihardja, Muhammad Natsir, Datuk Pamuntjak dan ahmad Subardjo sebagai anggota-anggota. Kongres membicarakan banyak aspek-aspek colonial dan mengupas situasi dunia pada saat itu, kemudian kongres mengeluarkan pernyataan dalam bentuk resolusi-resolusi mengenai keadaan dunia pada umumnya, dan keadaan dinegeri-negeri utusan serta tindakan-tindakan yang akan diambil. Kongres ini berdampak besar, Negara-negara penjajah membendung perlawanan penduduk bumi putera dengan reaksi yang lebih keras lagi dengan melakukan penindasan kepada tokoh-tokoh dari gerakan kemerdekaan nasional. Di negeri Belanda dan di Indonesia, Ketua perhimpunan Indonesia Muhammad Hatta dan tiga anggota lainnya masing-masing Muhammad Natsir, Datuk Pamuntjak, Ali Sastroamidjojo dan Abdulmadjid djojoadiningrat dijebloskan kedalam penjara untuk beberapa bulan, sedangkan beberapa anggota lainnya Arnold Mononutu dan Achmad Subardjo terdaftar sebagai orang yang akan ditangkap juga. Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927 di ketuai oleh Ir.Sukarno, baru saja didirikan oleh 5 orang anggota perhimpunan Indonesia yang baru kembali dari Belanda yaitu ; Iskak Tjokrodisurjo, Sunarjo, Budiarto, Samsi Sastrowidagdo, Sartono serta Ir.Sukarno dituduh akan menggulingkan pemerintah Hindia Belanda. Sukarno dan tiga orang pemimpin-pemimpin PNI lainnya yaitu ; Maskun, Gatot Mangkupradja, dan Supradinata telah ditangkap dan diseret dimuka pengadilan “Landraad” Bandung. Selama pendudukan Jepang, Soekarno dan Hatta telah mendapatkan kesempatan untuk menyadarkan rakyat Indonesia tentang “Asianisme” dalam hubungannya dengan tujuan perang untuk mendirikan daerah kemakmuran bersama dinegara-negara diantara bangsa-bangsa Asia Raya. Dengan pemahman Asianisme ini mereka mempertebal kesadaran nasional dan diluar dugaan mereka diperkenankan dan mendapat dorongan melakukan gerakan nasionalisme selama dalam batas-batas Asianisme, dan yang kedua bahwa hal itu ditujukan untuk membantu tujuan perang Jepang. Hikmah dari perang Pasific dan sejarah pendudukan Jepang telah memperkuat keyakinan para pemimpin-pemimpin pergerakan nasional rakyat Indonesia dan inilah saatnya telah bangkitnya nasionalisme dikalangan penduduk Indonesia. Semoga ditengah-tengah peringatan hari kebangkitan nasional ini kita tidak melupakan sejarah perjuangan para pendahulu kita dikala mereka memberikan sumbangan bagi lahir dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber bacaan ; Lahirnya Republik Indonesia, oleh ; Mr.Ahmad Soebardjo Penerbit PT.Kinta,1977
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com